PROFIL CAGUB / CAWAGUB JABAR 2013-2018




Irianto Mahfudz Sidik Syafiuddin

Irianto Mahfudz Sidik Syafiuddin merupakan anak bungsu dari 14 bersaudara. Dia menikahi Anna Sophanah yang kini mendapat amanah sebagai Bupati Indramayu periode 2010-2015.
Pernikahan itu, Irianto dengan Anna dikarunai tiga orang anak, mereka yakni Dinny Yuniarti Syafiyana, Daniel Muttaqien Syafiuddin, dan Deani Iyeng Syafiyana.
Semasa kecil, Irianto menghabiskan waktu di Kota Indramayu, Jawa Barat. Saat SD, Irianto sekolah di SDN Paoman VI Indramayu pada 1968 dan SMP N 1 Sindang Indramayu, hingga SMA N 1 Sindang Indramayu pada 1974.
Dari sisi pendidikan, Irianto seakan tidak mau berhenti. Menempuh pendidikan S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cianjur, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat kemudian melanjutkan ke S-2 Magister Managemen Sekolah Tinggi Manageman Labora Jakarta.
Seakan tidak cukup hanya belajar Manajemen, Irianto kembali mengambil Magister Managemen STIAMI Jakarta dan dilanjutkan S-3 Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada 2009.
Dari sisi pengalaman, anak dari pasangan Mursyid Ibnu Syafiuddin dan Nyi Iyeng itu tidak perlu diragukan lagi. Sederet jabatan puncak di keorganisasian telah diembannya sejak 1987.
Seperti Ketua Pemuda Pancasila Indramayu 1987 (3 periode), Ketua BPC HIPMI 1990-1993, Ketua DPD Organda Kabupaten Indramayu 1997, Ketua BPC GAPENSI Kabupaten Indramayu 1997, Ketua I Perbasi dan Ketua Bidang Pengadaan Dana KONI Indramayu tahun 1998, Ketua KADINDA 1998, Ketua Pembina DPC KWRI Kabupaten Indramayu 1998.
Di tahun yang sama, pria yang kerap disapa Yance ini mulai merintis karier di Partai Golkar dan mengisi posisi Wakil Ketua Partai Golkar di1998. Naik kelas, Yance kemudian didaulat menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Indramayu 2004-2009, dan Bupati Indramayu dua periode 2000-2005 dan 2005-2010.
Tahun ini, Yance mendaftarkan diri menjadi Calon Gubernur Jawa Barat 2013. Dengan berpasangan dengan Tatang Farhanul Hakim yang juga mantan Bupati Tasik, Yance mantap maju dengan disokong Partai Golkar.
Meski Tatang merupakan kader Partai Amanat Nasional, namun partai berlambang matahari biru itu telah menetapkan pilihannya ke pasangan lain.

Tatang Farhanul Hakim

Bagi warga Tasikmalaya, nama Tatang Farhanul Hakim sudah familiar. Pria kelahiran 18 Maret 1961 itu, pernah menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya selama dua periode yakni 2001-2006 dan 2006-2011.
Lulus dari Madrasah Aliyah Negeri pada tahun 1982, Tatang mememilih menjadi guru honorer dari 1983-1992. Tatang pun mencoba keberuntungan dengan terjun ke politik praktis. Tidak disangka karir politiknya melesat setelah bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Tatang sempat menjadi anggota DPRD Tasikmalaya secara tiga periode yakni 1992-1997, 1997-1999, dan 1999-2001. Sebelumnya, Tatang pernah menjadi anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (1985-1986).
Besar dari PPP, Tatang sempat menempatkan posisi puncak sebagai Sekjen DPW PPP Jawa Barat. Namun setelah gagal merebut posisi Ketua DPW PPP Jawa Barat, Tatang memilih untuk belabuh ke Partai Amanat Nasional.
Di Partai berlambang matahari biru itu, Tatang menempati posisi sebagai Wasekjen DPP PAN. Tatang dikenal sosok politikus bertangan dingin dan menjadi “Think Tank” di beberapa pemilukada lokal.
Tahun ini, Tatang mencoba keberuntungan di tingkat Jawa Barat. Berdampingan dengan Irianto Mahfudz Sidik Syafiuddin atau biasa dikenal Yance, Tatang optimis bisa memenangkan pemilihan ini dengan satu putaran.

Yusuf Macan Effendi (Dede Yusuf)

Yusuf Macan Effendi atau biasa dikenal Dede Yusuf, merupakan Wakil Gubernur Jawa Barat yang saat ini masih menjabat. Dede Yusuf nekat maju untuk memerebutkan tiket Gubernur Jawa Barat 1 setelah mendapat izin dari Partai Demokrat, PAN, PKB, dan Gerindra.
Terjunnya aktor di era 80-an ini ke dunia politik diawali pada 1992. Saat itu Dede tergabung menjadi pengurus pusat di Kosgoro. Namun dunia ke-artisan dirasa sangat menggiurkan dan Dede memilih untuk menjadi kandidat Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI).
Namun keberuntungan ternyata belum berpihak ke Dede. Aktor senior Sys NS memenangkan posisi Ketua Umum PARFI dan Dede menempati posisi sebagai Sekjen PARFI.
Seiring kesibukan syuting, Dede memilih untuk meletakkan jabatan itu. Dede kembali terjun ke dunia politik dan mendaftar sebagai calon legislatif dari PAN untuk daerah pemilihan Jabar IX (Kuningan-Ciamis-Banjar).

Langkah Dede tepat, dan dia terpilih sebagai Anggota Legislatif untuk masa jabatan 2004-2009. Anak pasangan dari Tammy Effendi dan Rahayu Effend itu dipercaya duduk di Komisi VII yang membidangi Energi, lingkungan Hidup, Minyak dan Gas serta Ristek.

Pada 2009, Dede kemudian memilih peruntungan di Pemilihan Gubernur Jawa Barat bersama Ahmad Heryawan. Masyarakat Jawa Barat pun memercayakan pemerintah di pasangan tersebut hingga 2013 mendatang.
Belakangan Dede memilih untuk meninggalkan PAN dan bergabung dengan Partai Demokrat. Strategi inipun membuat Dede berhasil menyakinkan petinggi partai berlambang mercy itu dan pria kelahiran Jakarta, 14 September 1966 itu melenggang menjadi calon Gubernur Jawa Barat 2013-2018.

Lex Laksamana Zaenal

Lex Laksamana mencuat setelah “dipinang” Dede Yusuf untuk maju di dalam Pilgub Jawa Barat 2013 mendatang. Pria kelahiran Bandung, 19 Oktober 1952 itu dikenal sangat dekat dengan birokrat.
Pria kelahiran asal Bandung, Jawa Barat itu sudah berada di posisi pemerintah sejak 1977. Saat itu tergabung dalam Counterpart Proyek Way Rarem sebagai Direktur Irigasi Departemen PU.
Karirnya melesat hingga 1 Januari 1999, pria lulusan Teknik Sipil ITB (1977) itu dipercaya menduduki posisi Kepala Kanwil Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Jabar hingga Januari 2001.
Kecermelangannya dalam menyelesaikan tugas, membuat Lex Laksamana menduduki posisi Asisten Perekonomian Setda Provinsi Jawa Barat dari 1 Januari 2004-1 Januari 2006.
Jabatan terakhir, Lex Laksamana menduduki posisi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat dari 1 Januari 2006 hingga 1 Januari 2010.

Ahmad Heryawan

Menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat, sepertinya tidak cukup bila dilakukan satu periode. Oleh karena itu, Ahmad Heryawan memutuskan untuk kembali bertarung dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat yang akan dihelat pada Februari 2013 mendatang.
Di mata warga Jawa Barat, sosok pria yang kerap disapa Kang Aher dikenal merakyat dan senang membaur dengan warga. Tidak salah, karena Kang Aher itu besar dan menghabiskan waktu di Jawa Barat.
Sekolah di SD Selaawi I Sukaraja dan SLTP di Sukaraja, serta SLTA 3 Sukabumi, Jawa Barat. Setelah itu menempuh LIPIA Fakultas Syariah (S1) Tahun Lulus 1992.
Sejalan dengan jurusannya, Kang Aher sempat menjadi dosen di sejumlah tempat, yakni Dosen LembagaDakwah Islam Al Hikmah, Dosen Universitas Ibnu Khaldun, dan DosenTidakTetap FE Extention UI.

Dekat dengan organisasi keagamaan, membuat Kang Aher terjun ke dunia politik. Kang Aher bergabung dengan Partai Keadilan (nama sebelum Partai Keadilan Sejahtera) dan didapuk menjadi Ketua DPW PK DKI Jakarta 1999-2003.

Karirnya pun melesat, sehingga dipercaya menduduki Ketua DPW PKS DKI Jakarta 2003-2006 dan Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah PKS DKI Jakarta 2006-2010. Atas prestasinya, Kang Aher pun menjadi Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta periode 2004-2009.
Pada 2008, Aher menjajal keberuntungan di Pemilihan Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013. Didampingi Dede Yusuf, pasangan ini meraih kemenangan. Namun pada Pilgub 2013-2018, Dede memilih untuk maju dan bersaing dengan Kang Aher.
Didukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Persatuan Pembanguan (PPP), Kang Aher pun pede menggandeng artis senior Deddy Mizwar.

Deddy Mizwar

Di dunia seni dan perfilm-an, siapa yang tidak kenal dengan Deddy Mizwar. Tokoh utama film Nagabonar itu sejak kecil sudah berkecimpung di dunia seni.
Wajar saja, karena sang ibu, Sun'ah atau Ny Andris, merupakan pemimpin sanggar seni Betawi dan kerap mengadakan kegiatan seni-nya di rumah. Kepincut dengan dunia seni, Deddy pun memilih untuk aktif di Teater Remaja Jakarta.
Meski sempat menjadi pegawai di Dinas Kesehatan Jakarta, pria lulusan Sekolah Asisten Apoteker atau sekarang sekolah farmasi itu hanya bertahan dua tahun dan memilih menggeluti dunia seni sejak 1973.
Tidak salah, hasil kerja kerasnya membawa Deddy memperoleh gelar aktor terbaik Festival Teater Remaja di TIM, Jakarta. Atas kecemerlangannya di dunia seni, dia pun menjadi dosen di LPKJ-IKJ.
Bahkan untuk menikahi gadis pujaannya, Giselawati yang juga penari-aktris, Deddy memberi “kado” 2 buah Piala Citra sekaligus pada tahun yang sama. Tidak hanya sukses di dunia layar lebar, Deddy pun merambah dunia televisi.
Dari tangan dinginnya, Deddy mampu menelurkan sejumlah film dan sinetron bermutu. Sinetron berbau religi sukses membuat nama Deddy kian meroket. Berdakwah melalui kesenian merupakan salah satu moto ayah dari dua orang anak ini.
Terakhir, Deddy sukses membuat film bertema sosial. Bertindak sebagai sutradara dan pemain, Deddy berjudul “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” mengungkap realita kehidupan sosial di masyarakat.
Tidak mau hanya menyuarakan melalui film dan sinetron, pada 2009 Deddy “berdamping” dengan Saurip Kadi dikabarkan akan maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.
Sejak saat itu, Deddy mulai aktif melakukan melakukan kritik sosial terhadap keadaan sekitar. Bahkan Deddy sempat melaporkan sejumlah kasus korupsi kepada Komis Pemberantasan Korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum.

Kali ini, Deddy maju sebagai calon Wakil Gubenur Jawa Barat untuk mendampingin Ahmad Heryawan. Diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Persatuan Pembangunan, pasangan ini resmi mendaftarkan diri ke KPUD Jawa Barat pada 10 November lalu.

Rieke Diah Pitaloka Intan Purnamasari

Nama Rieke Diah Pitaloka Intan Purnamasari bisa dibilang bukan politisi karbitan. Sejak berkecimpung di dunia politik pada 2007 lalu, wanita kelahiran Garut, Jawa Barat, pada 8 Januari 1974 itu aktif sudah menduduki sejumlah posisi penting di partai.
Menapaki karir pertama sebagai Wakil Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar, nama Rieke semakin dikenal di dunia politik.
Kemudian pada 2009 lalu, Rieke memutuskan untuk mengundurkan diri dari partai berbasis massa Islam itu dan bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pimpinan Megawati Soekarnoputri.
Bermodal keartisan yang dia miliki, Rieke mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) dalam Pemilihan Legislatif 2009 lalu. Langkah tersebut ternyata tak salah, Rieke akhirnya tembus menjadi Wakil Rakyat di DPR untuk mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat II untuk periode 2009-2014.
Rieke mengaku, awalnnya terjun ke dunia politik karena gregetan dengan hukum Indonesia yang berjalan tidak sesuai koridor. Apalagi, terdapat stigma bahwa artis di dunia politik hanya digunakan sebagai pajangan.
Sebelumnya, pengagum Bung Karno itu telah mempelajari seluk beluk ilmu politik sejak 1995 lalu. Saat runtuhnya rezim Orde Baru, Rieke pun ikut ambil bagian dari bagian kemahasiswaan.
Rieke juga tergabung dalam Gerakan Mahasiswa UI Aliansi Pro Demokrasi Anti-Militerisme. Oleh karena itu, dia membantah jika ada sebagian kalangan yang mencapnya sebagai politikus instan.
Keputusan Rieke untuk terjun di dunia politik ternyata harus dibayar mahal. Dia kerap mendapat hal-hal yang tidak menyenangkan lantaran terlalu vokal menyuarakan aspirasi rakyat.
Ancaman pun kerap didapatkan wanita yang dikenal sebagai Oneng dalam sitkom Bajaj Bajuri. Namun wanita yang kini duduk sebagai anggota Komisi IX DPR itu tidak pantang menyerah.
Tahun ini, Rieke menjajal keberuntungannya untuk memerebutkan posisi Jawa Barat 1 yang akan digelar pada Februari 2013 mendatang melalui PDI Perjuangan. Bersama aktivis dan penggiat antikorupsi, Teten Masduki, mereka siap bersaing dengan pasangan lainnya

Teten Masduki

Dunia anti-korupsi bisa disebut sebagai dunia yang membesarkan nama Teten Masduki. Penggiat Indonesia Corruption Watch ini, sudah cukup asam garam untuk melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia.
Siapa yang menyangka, Teten berasal dari keluarga petani. Ayahnya, Masduki, dan ibunya, Ena Hindasyah, pernah meminta anaknya untuk tidak menjadi pegawai negeri sipil dan tentara.
Semula bercita-cita menjadi insinyur pertanian, namun akhirnya Teten memilih kuliah di jurusan kimia IKIP Bandung. Meski demikian, sejak SMA hingga saat kuliah, Teten sering ikut kelompok diskusi dan mempelajari masalah sosial.
Pada 1985, Teten akhirnya terjun di dunia aktivis. Kali pertama turun ke jalan, Teten melakukan aksi demontrasi membela petani Garut yang tanahnya dirampas. Selepas menamatkan pendidikan di IKIP, Teten diajak bergabung ke LSM informasi dan studi hak asasi manusia.
Dia memulai aktivitasnya sebagai staf peneliti pada Institut Studi dan Informasi Hak Asasi Manusia (1978-1989). Dia kemudian dipercaya menjadi Kepala Litbang Serikat Buruh Merdeka Setiakawan (1989-1990). Dari sana, dia beranjak menjabat Kepala Divisi Perburuhan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (1990-2000).
Ketika itu dia makin banyak berhubungan dengan buruh. Apalagi pada saat yang bersamaan, dia juga aktif sebagai Koordinator Forum Solidaritas Buruh (1992-1993) dan Koordinator Konsorsium Pembaruan Hukum Perburuhan (1996-1998).
Memasuki era reformasi, Teten aktif sebagai Koordinator Indonesia Corruption Watch (1998-sekarang). Keterlibatannya di ICW didorong kegeramannya melihat merajalelanya korupsi di negeri ini.
Prestasi puncak yakni mengungkap kasus suap yang melibatkan Jaksa Agung Andi M Ghalib pada masa pemerintahan BJ Habibie. Gebrakannya melalui ICW itu memaksa Andi Ghalib turun dari jabatannya.
Atas kerja kerasnya, Teten dianugerahi Suardi Tasrif Award pada 1999. Teten juga mendapat penghargaan Ramon Magsaysay 2005 dari Yayasan Magsaysay, Filipina, atas perjuangannya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Penyerahan penghargaan dilakukan di Manila pada 29 Agustus 2005.

Dikdik Mulyana Arief Mansur

LANGKAH Dikdik Mulyana Arief Mansur sudah mantab untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013. Bahkan dia rela melepaskan jabatan sebagai Kapolda Sumetara Selatan.
Alumnus Akademi Kepolisian tahun 1978 itu sudah banyak makan asam garam di kepolisian. Dia mulai terjun di dinas kepolisian dengan menjabat sebagai Paops Wil Purwakarta Polda Jabar pada 1979. Setahun kemudian dia dilantik sebagai Kapolsek Pamanukan.
Beberapa posisi penting lain pernah dijabatnya yakni Kanit Penyelundupan Polda Metro Jaya pada 1994, Kadit Serse Polda Kalimantan Selatan (2001), Kasat Serse Um Ditserse Polda Metro Jaya (1997), Dir Reskrim Polda Jabar (2003), Wakapolda Kalsel (2004), Kapolda Kepulauan Riau (2009), dan Kapolda Sumatera Selatan (2012).
Selain di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, pria kelahiran Bandung, 14 Juni 1955 itu juga pernah mengemban tugas di Polda NTB. Di sanalah dia merintis kariernya hingga menjadi perwira menengah.
Melepas jabatan di kepolisian sebelum masa pensiun, diakui Dikdik sebagai hal yang berat. Namun tekadnya sudah bulat untuk mengabdi kepada masyarakat Jawa Barat. Pada Oktober awal dia akhirnya mengajukan pengunduran diri ke Kapolri. Pengunduran dirinya baru diterima pada 31 Oktober lalu.
Sejak itu, Dikdik sudah tidak lagi menjadi anggota Polri aktif. Konsentrasinya kini menyiapkan pemilihan gubernur yang akan dihelat pada Februari 2013. Dia maju melalui jalur independen bersama pasangannya, Cecep Nana Suryana Toyib, mantan Sekda Kabupaten Indramayu.
Maju melalui jalur perseorangan atau independent bukan perkara mudah. Dikdik dan Toyib harus mengumpulkan dukungan dalam bentuk 1,5 juta kartu identitas warga secara proporsional. Jumlah tersebut diambil dari tiga persen total penduduk Jabar, yakni 49,1 juta jiwa.
Hal ini sesuai rekapitulasi verifikasi faktual oleh panitia pemungutan suara di 26 kabupaten/kota se-Jawa Barat.
Tak hanya itu, Dikdik juga harus berjuang untuk membumikan namanya di kalangan warga Jabar. Pasalnya, calon-calon gubernur lainnya sudah lebih dikenal, seperti calon incumben Ahmad Heryawan, Wakil Gubernur Dede Yusuf, dan Ketua DPD Partai Golkar Jabar Irianto Mahfud Siddiq Syafiuddin atau Yance.

Cecep Nana Suryana Toyib

Nama Cecep Nana Suryana Toyib, kian disebut-sebut, khususnya oleh warga yang tinggal di Jawa Barat. Bagaimana tidak, pria kelahiran Cirebon, 56 tahun lalu itu bakal meramaikan pesta demokrasi pemilihan Gubernur Jawa Barat (Jabar) pada 2013 mendatang.
Sebagai putra daerah, pria yang biasa disapa Toyib tersebut didaulat menjadi calon wakil gubernur mendampingi Dikdik Mulyana Arief Mansur, yang tak lain adalah mantan Kapolda Lampung. Keduanya terdaftar sebagai calon dari jalur perseorangan (independen)
Meski berasal dari keluarga militer, pria yang lahir pada 10 Januari itu ternyata sudah malang melintang di dunia birokrat. Sejumlah posisi penting pernah didudukinya, seperti Camat Widasari, Anjatang, dan Camat Jatibarang.
Toyib pernah pula menjadi Komandan Satpol PP Indramayu, Kepala Bagian Humas Pemkab Indramayu, Kepala Dinas Pertambangan, Kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di jajaran Pemkab Indramayu.
Terakhir, Toyib menjabat sebagai Sekretaris Daerah Pemkab Indramayu pada 2011 lalu, setelah sebelumnya di posisi pelaksana tugas selama hampir setahun, namun kini, anak dari Kapten Inf Mochamad Toyib (alm) sudah pensiun.

(@dhedi’sh / Sumber : bandung.okezone.com)